Hiking Tour Ke Yangdong Village, Gyeongju

photo source : bbc.news.uk
photo source : bbc.news.uk

Ingin melihat pedesaan tradisional terbesar di Korea Selatan sambil hiking? Berkunjunglah ke propinsi Gyeongsangbuk (Gyeongsangbuk-do) yang terletak di kota Gyeongju (Gyeongju-si). Desa ini terletak di taman nasional Gyeongju, tepatnya di kaki gunung Seolchangsan dan dialiri sungai Hyeongsangang. Desa ini didirikan oleh Son So sekitar abad ke-15 dan telah meninggalkan banyak warisan budaya dari masa Dinasti Joseon. Desa ini juga telah ditetapkan oleh UNESCO sebagai salah satu World Heritage Village pada tahun 2010. Terdapat lebih dari 160 rumah beratap genteng dan jerami. Lebih dari 54 rumah bersejarah berusia lebih dari 200 tahun yang tetap dijaga kelestariannya. Desa ini juga tetap mempertahankan adat istiadat serta bangunan berarsitektur tradisional. Peninggalan bersejarah itu antara lain : Seobaekodang (rumah utama dari keluarga Wolseong Son), Mucheomdang (rumah utama keluarga Yeogang Yi), Hyangdan (rumah yang dibangun atas perintah Raja JungJong), Ihayangjeon (rumah utama keluarga Yi Beom-jung), Gwangajeong (rumah utama keluarga Son Jung-don), Simsujeong Paviliun, Ganghakdang (sekolah), dan Sonsoyeongjeong, juga Tonggamsokpyeon (buku cetak berbahan logam). Jadi, di masa lalu, desa ini menjadi tempat tinggal kebanyakan kaum intelektual untuk mempelajari ilmu Konfusius.

photo source : travelwireasia.com
photo source : travelwireasia.com

Topografi desa ini mengikuti pegunungan dan lembah-lembah yang berbentuk seperti karakter hanja yang artinya pertanda yang baik (menguntungkan).  Tata letak dan lokasi yang terlindung oleh pegunungan berhutan dan menghadap ke sungai dan membuka lahan pertanian, mencerminkan budaya khas kaum Konfusianisme aristokrat di masa Dinasti Joseon. Pengaturan rumah-rumah di desa ini menandakan pula status sosial dari keluarga tersebut. Yang berstatus sosial atas memiliki rumah yang di bangun di tempat yang lebih tinggi dan beratap genteng serta bangunan yang luas sesuai peraturan tentang pembangunan rumah di masa Dinasti Joseon pada saat itu. Contohnya, rumah keturunan keluarga bangsawan Wolseong Son, Yeogang Yi, Son Jung-don, dan Hyangdan  yang berada di tempat yang tinggi dan bangunannya luas. Sedangkan yang berstatus sosial bawah memiliki rumah yang dibangun di tempat yang lebih rendah, beratap jerami, dan bertanah liat.

Gambar
photo source : travelwireasia.com

Terdapat pintu gerbang berbentuk L yang dibuka untuk umum dan digunakan untuk hiburan, membaca, dan relaksasi. Terdapat beberapa kedai makanan tradisional yang dijalankan oleh penduduk desa. Jadi saat berada di sana, kita jangan mengintip sembarangan di rumah-rumah penduduk karena sebagian rumah di sana masih berpenghuni lho 😀 . Atraksi wisata lainnya yang bisa didapatkan di desa ini adalah pelajaran dan demonstrasi tentang etiket umum, pernikahan tradisional, ritual leluhur, dan masih banyak lagi warisan budaya Korea lainnya. Kita juga bisa menginap di salah satu hanok yang disewakan di desa itu. Jadi saat kita mengunjungi tempat ini, kita mungkin akan mendapatkan pengalaman baru yang unik dengan merasakan kehidupan tradisional Korea dari masa lalu.

Jika tertarik mengunjungi desa ini, pihak KTO juga telah menyediakan itinerary yang dapat dijadikan panduan seperti berikut ini :

  • Tour Route 1 (Hachon): Ihyangjeong Pavilion – Narrow Trail – Ganghakdang Village School – Simsujeong Pavilion (20 minute hike)
  • Tour Route 2 (Mulbonggol): Hachon – Mucheomdang House – Daeseongheon House – Mulbong Peak – Mulbong Hill – Narrow Trail – Mulbong Peak (1 hour hike)
  • Tour Route 3 (Hill at the Back of Sujoldang): Mulbong Peak – Gyeongsan Confucian School – Hill at the Back of Sujoldang – Sujoldang House (30 minute hike)
  • Tour Route 4 (Naegok): Geunam Old House – Sangchunheon House – Sahodang House – Seobaekdang Village School – Nakseondang Village School (1 hour hike)
  • Tour Route 5 (Dugok): Dugok Old House – Dugok Yeongdang Shrine – Hachon (30 minute hike)
  • Tour Route 6: Hyangdan House – Gwangajeong Pavilion – Jeongchung Monument (1 hour hike)

Tur ke desa ini dimulai dari pukul 09.30 – 17.30 dan tidak dikenakan biaya (gratis / free) untuk mengunjungi desa tradisional ini. Jika kita berangkat dari Seoul, kita bisa menggunakan bus yang berangkat dari Express Bus Terminal (Line 3, 7, dan 9, Exit 2) yang menuju ke Gyeongju Express Bus Terminal. Bus pertama berangkat pada pukul 06.05, dan yang terakhir pada pukul 23.55 dengan interval setiap 30 – 40 menit. Perjalanan dari Seoul ke Gyeongju memakan waktu sekitar 4 jam. Biaya bus sekitar 18.600 won – 30.400 won. Info selengkapnya : http://english.visitkorea.or.kr/enu/SI/SI_EN_3_6.jsp?gotoPage=1&cid=996702&out_service=

Begitu tiba di Gyeongju Express Bus Terminal, kita masih akan melanjutkan perjalanan menuju Yangdong Village dengan mengambil bus bernomor 200, 201 – 208, 212, atau 217 dan turun di pintu gerbang yang berjarak sekitar 1,2 km menuju desanya dengan berjalan kaki. Info selengkapnya : http://www.invil.org/english/village/daegu/contents.jsp?con_no=23876&page_no=1

#WowKoreaSupporters

Reference From :

http://discoveringkorea.com/100801/gyeongju-yangdong-folk-village-named-a-unesco-world-heritage-site/

http://english.chosun.com/site/data/html_dir/2012/08/18/2012081800319.html

http://www.travelwireasia.com/2012/04/destination-yangdong-village-gyeongju-gyeongsangnam-do/

http://www.travelpanda.org/south-korea/gyeongju-yangdong-village/

http://www.visitkorea.or.kr/enu/SI/SI_EN_3_1_1_1.jsp?cid=804281

http://en.wikipedia.org/wiki/Yangdong_Folk_Village

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s