Drama yang Menyertai Sebelum ke Negara yang Kaya Akan Drama… ‘KOREA’

Pasti selalu ada drama setiap akan berangkat ke Korea. Dan drama kali ini lebih dahsyat dari sebelumnya. Tapi anggap aja itu ujian untuk naik kelas. Gak ada drama, maka hidup akan terasa hambar, benar gak? Ini kisahku sebulan yang lalu saat mau trip ke Korea untuk yang ke-3 kalinya.

Drama 1: Paru Rica yang Tak Kunjung Datang😁

Rencananya liburan ke Korea akan dilengkapi dengan perbekalan makanan yang bisa mencukupi selama di sana. Dan pilihan utama jatuh pada paru rica. Kelezatannya pun sudah terbayang gimana pas di Korea yang saat itu lagi dingin-dinginnya dan makan paru rica dengan nasi hangat…hmmm sedapnya. Tapi sayangnya begitu mau order di hari minggu, ternyata si seller libur. Lalu aku berinisiatif mencari yang lain. Yess…dapat! Awalnya negosiasi berjalan lancar sampai akhirnya di sore hari si seller kedua mengabarkan bahwa ia tak bisa memenuhi pesanan kami. Lalu aku mencari lagi seller ketiga…dapat! Dan akhirnya berakhir di seller ketiga ini. Sayangnya tak sesuai ekspektasi. Setelah pernah mencoba paru rica dari seller pertama yang rasanya sesuai seleraku, ternyata rasa paru rica dari seller ketiga ini sangat beda dan teksturnya tidak sekering dengan paru rica seller pertama. Sementara itu aku belum pernah nyoba paru rica dari seller kedua, but soon aku akan coba!

Drama 2: Waktu Mau ke Bandara

Dan boleh dibilang jika inilah drama yang mulai melelahkan hayati. Baik aku dan Sri, ponakan rasa sepupu yang jadi partner jalanku kali ini. Pertama, waktu dijemput mundur setengah jam dari jadwal. Setelah itu mampir dulu di atm narik duit untuk ditukar. Setelah itu, Sri mau ke Agung dulu untuk membeli tissu basah dan termos air. Setelah itu ke money changer tukar duit tapi ada drama juga karena Sri mau narik duitnya dulu di atm BNI padahal sebelumnya udah ke atm tapi waktu itu dia gak narik karena dipikirnya uang tunainya cukup. Jadi pasti musti ambil waktu lagi untuk semua ini. Dan setelah itu Sri minta balik dulu ke rumahnya karena dia lupa jilbabnya😱 Dan setelah itu baru benar-benar jalan ke bandara. Jam sudah menunjukkan pukul 10.30 dan perjalanan ke bandara paling lama setengah jam kalo lancar. Pesawat kami dijadwalkan berangkat pukul 12.30 siang. Sebenarnya itu masih sangat bisa dijangkau kalau tidak ada drama selanjutnya yaitu MACET akibat persiapan D.E.M.O! Dan disinilah ketegangan berlangsung. Untung saja masih keburu dan kami tiba di bandara sekitar pukul 11.30 dengan terburu-buru.

Drama 3: Over Bagasi di Bandara

Kami naik pesawat AirAsia dan tentu saja aku gak pakai bagasi untuk pergi, dan Sri sendiri beli bagasi 20 kg yang awalnya dirasa cukup. Ternyata kopernya udah pas 20 kg. Malah lebih 0.5 kg jadi 20.5 kg. Oke…pasrah aja kalau setelah check in masih harus melewati pemeriksaan di depan pintu masuknya AirAsia. Dan benar saja, bawaan kabin kami melebihi batas maksimal 7 kg. Dan menurut petugasnya kami harus bayar sekitar Rp. 600.000,- untuk kelebihan ini. Wah, siapa juga yang mau!

Lalu kami pun minta waktu untuk mengurangi isi bawaan koper kabin kami. Hiks…bahkan bekal ayam yang belum sempat dicicipi itu harus hilang dalam sekejap tapi demi masa depan, biarlah… Dan setelah mengurangi akhirnya lolos juga. Kami sangat-sangat lelah…lelah hayati padahal belum terbang. Untung aja masih bisa tersenyum bahagia setelah melewati drama yang melelahkan ini…

Drama 4: Setibanya di Bandara KLIA2

Pesawat kami mendarat sempurna di KLIA2 sekitar pukul 4 sore. Setelah melewati proses imigrasi, kami pun bergegas mengambil bagasi. Sekitar 10 menit lalu melewati lagi proses scan terakhir di bea cukai bandara KLIA2.

Setelah itu kami pun mencari bus yang akan membawa ke kota Kuala Lumpur. Setelah mondar-mandir akhirnya aku baru sadar kalau aku seharusnya membeli tiket bus dulu di dalam. Lalu kami masuk lagi dan untung aja counter pembelian tiket bus ada di lantai yang sama dengan tempat tunggu bus. Akhirnya dapatlah tiket bus seharga 12RM dari KLIA2 ke KL Sentral. Perjalanan memakan waktu 1 jam dan aku memilih tidur.

Drama 5: Setibanya di Pusat Kota Kuala Lumpur

Perjalanan sejam tidak terasa karena aku yang awalnya mau tidur, gak jadi tidur karena ngobrol dengan Sri. Dan setibanya di KL Sentral yang terletak di pusat kota Kuala Lumpur, kami pun bergegas menuju Nu Sentral, sebuah mal yang berada di dalam KL Sentral tapi untuk menuju kesitu kami harus naik eskalator lagi lalu turun lagi karena tujuan utamanya adalah ke Sam’s Groceria Supermarket untuk membeli nasi lemak berhubung perut belum diisi sejak siang hari dan saat itu sudah menjelang magrib.

Setelah itu kami naik lagi untuk menuju stasiun monorail dengan tujuan Bukit Bintang. Badan rasanya udah mau drop karena udah sangat lelah baik fisik maupun jiwa akibat drama-drama sebelumnya.

Dan ternyata begitu turun di stasiun monorail Bukit Bintang, kami pun mengalami drama lagi berupa tangga-tangga manual. Aku sendiri sih gak masalah, tapi Sri yang bawaannya segudang…untung aja dibalik kengerian tangga itu ada saja orang baik yang mau bantuin dia.

Mengingat tangga di stasiun monorail Bukit Bintang tidak santai, jadi buat kalian yang semi backpackeran dan bawa koper, dianjurkan untuk tidak menginap di kawasan ini kecuali kalo kalian rame-rame n naik mobil untuk mengantarkan kalian langsung di penginapan tanpa harus melewati tangga sambil membawa koper.

Dan kami menginap di Travelogue, sebuah guesthouse yang posisinya tepat di seberang stasiun monorail Bukit Bintang. Penginapannya bagus hanya saja letaknya di lantai 3.

Bersambung….

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s